Keuangan

BPJS Ketenagakerjaan dan Proses Perhitungannya

Memperhitungkan biaya BPJS Ketenagakerjaan memang menjadi kebutuhan penting untuk dipahami dan dimengerti oleh HR. Seorang Human Resources harus mampu dalam melihat dan memperhatikan mengenai iuran yang dikeluarkan oleh karyawannya. Apalagi untuk melakukan perhitungannya pun bukan hal yang sulit dan ribet dilakukan. 

Berdasarkan dari Peraturan Pemerintah dalam Nomor 84 Tahun 2013 menjelaskan apabila perhitungan terkait BPJS Ketenagakerjaan telah diatur dan ditentukan dalam peraturan yang berlaku. Dalam tahap ini, rasanya Anda harus mampu benar-benar bisa memahaminya dan memperhatikan semuanya dengan lebih jelas, terutama BPJS Ketenagakerjaan tersebut. 

Mengenal BPJS Ketenagakerjaan 

Sebelum lebih jauh membahas mengenai perhitungannya, rasanya lebih tepat untuk lebih mengenal mengenai BPJS Ketenagakerjaan terlebih dahulu. Untuk Anda yang belum mengetahuinya BPJS Ketenagakerjaan adalah badan usaha yang fokusnya memberikan perlindungan khusus kepada pekerja atau karyawan di seluruh Indonesia. 

Dulunya layanan ini dikenal dengan sebutan Jamsostek atau Jaminan Sosial Tenaga Kerja, tapi semenjak diberlakukan dan disahkan UU NO. 24 Tahun 2011, diubah dan diganti dengan nama BPJS Ketenagakerjaan yang dikenal hingga sekarang. Misinya memang untuk memberikan kesejahteraan karyawan, sehingga tidak ada lagi permasalahan dan memiliki perlindungan. 

BPJS Ketenagakerjaan termasuk dalam program yang diatur oleh pemerintah, sehingga setiap perusahaan yang memiliki karyawan wajib untuk mendaftarkannya dan kebutuhannya harus disesuaikan, sehingga jaminan sosial tersebut dapat melindunginya dan membuat rasa aman ketika sedang dalam bekerja nantinya. 

Jenis-Jenis Program BPJS Ketenagakerjaan 

Mungkin Anda hanya mengenal BPJS Ketenagakerjaan saja dalam arti yang tidak terlalu luas. Ternyata, program pemerintah tersebut mempunyai beberapa macam jenisnya. Nah, apa saja itu? Simak yuk 

1. Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK)

Program satu ini termasuk dalam BPJS Ketenagakerjaan, sehingga semua yang berkaitan dengan resiko kecelakaan kerja ketika sedang bekerja akan mendapatkan perlindungan. Untuk pekerjaan lapangan biasanya banyak menggunakan program satu ini. Karena memberikan banyak perlindungan dan kebutuhan lainnya. 

Tidak hanya itu saja, setiap karyawan sebenarnya wajib untuk memiliki JKK. Jadi, tidak hanya perlindungan ketika sedang bekerja saja, tapi saat hendak berangkat kerja pun mendapatkan keamanan perlindungan juga. Oleh karena itu, pastikan ketika Anda melamar pekerjaan dan diterima, lihat ketentuan yang ada dalam nilai kontraknya. 

2. Jaminan Hari Tua (JHT)

Proses ini termasuk program dari BPJS Ketenagakerjaan untuk karyawan yang ingin mempersiapkan masa pensiunnya. Ada beberapa keunggulan yang didapatkan, salah satunya dengan pemberian uang tunai kepada karyawan. Untuk proses perhitungannya pun nanti sangat mudah, sehingga menarik untuk Anda perhatikan. 

Untuk pelaksanaannya setiap karyawan harus mengeluarkan ketentuan yang ada dan proses perhitungannya akan diakumulasikan. Dengan demikian, ketika karyawan sudah memasuki masa pensiun, maka JHT tersebut dapat memberikan dampak yang baik dan bermanfaat untuk menghasilkan banyak keuntungan yang ada secara menyeluruh. 

3. Jaminan Pensiun (JP)

Mengenai jaminan pensiun (JP) tersebut telah diatur dan ditentukan dalam PP No 45 Tahun 2015 yang menjelaskan mengenai program tersebut secara menyeluruh. Tujuan adanya program tersebut untuk memberikan dan mempertahankan taraf hidup yang baik, khususnya untuk penerima secara langsung atau ahli waris yang mendapatkannya. 

Bentuk yang diberikan berupa penghasilan yang akan didapatkan ketika peserta masuk dalam masa pensiun, cacat total, atau peserta meninggal dunia. Kedepannya, pihak yang menerima akan mendapatkan uang tambahan setiap bulan. 

4. Jaminan Kematian (JKM)

Program ini memberikan manfaat untuk ahli waris yang menerimanya dari program uang tunai yang ada tersebut. Uang itu akan diberikan apabila peserta meninggal dunia bukan akibat kecelakaan kerja dan status kepesertaannya aktif. 

Proses Menghitung BPJS Ketenagakerjaan 

Untuk proses perhitungan terkait BPJS Ketenagakerjaan tersebut disesuaikan dengan program yang diikuti secara menyeluruh. Dalam tahap ini, disesuaikan dengan program yang diikuti terkait iuran yang harus disesuaikan. Sehingga perhitungannya sangat mudah dilakukan, karena telah ditentukan berdasarkan dari program yang ada. 

Terkait untuk JHT sendiri iuran yang harus dikeluarkan oleh karyawan sebesar 5,7 persen dari upah yang didapatkan, mengenai pembayarannya dibagi dua antara perusahaan dan karyawan. Perhitungannya, karyawan akan membayarkan sebesar 2 persen, lalu perusahaan akan membayar sebesar 3,7 persen. 

Lalu, perhitungan untuk JKK sendiri berbeda dengan JHT. Ada beberapa tabel yang diberikan terkait JKK tersebut, mulai dari paling rendah sekitar 0,24 persen, rendah 0,54 persen, sedang 0,89 persen, tinggi 1,27 persen, dan paling tinggi 1,74 persen. Dalam tahap ini, semuanya ditanggung oleh perusahaan yang mana tempat karyawan bekerja. 

Selanjutnya terkait JKM sendiri perhitungannya berdasarkan ketentuan yang ada, besaran nilainya bisa Anda lihat dari situs BPJS Ketenagakerjaan untuk informasi terbarunya. 

 

Demikianlah penjelasan lengkap mengenai perhitungan BPJS Ketenagakerjaan, tentunya sebagai HR dan karyawan Anda harus mampu memahaminya.